Di bawah ini adalah kata-kata pembuka dalam member area web bisnis Rudy Setiawan, seorang marketer kelas dunia yang memiliki banyak bisnis, termasuk banyak bisnis afiliasi, PPC, PPL, dan sejenisnya di bisnis online dan telah menhasilkan ribuan dollar tapi kemudian memutuskan untuk menekuni kembali bisnis jaringan dan bisnis Multi Level Marketing (MLM) dan kemudian meng-online-kannya di internet.
Hal yang hampir sama pun saya lakukan dengan mensinergikan bisnis utama saya di Sinarmas Life dengan bisnis afiliasi secara online. Meski sama-sama memiliki jalur pengembangan bisnis melalui jaringan, namun produk, cara kerja, dan marketing plan-nya jelas sangat jauh berbeda dengan sistem bisnis MLM atau sejenisnya.
Silahkan disimak baik-baik, cekidot:
Kalau boleh jujur, ada kerugian TERBESAR menjadi seorang affiliate marketer…
“Saya hanya menerima hasil SEKALI saja dari hampir semua produk, barang dan jasa yang berhasil saya jual.”
Menyebalkan bukan…!?
Terus bagaimana jika orang yang saya referensikan membeli produk itu lagi?
Ya otomatis saya tidak akan mendapatkan apa-apa… nol… kosong… JENDOL!!
Menyebalkan sekali bukan…!?!?
“Saya harus terus-menerus menjual barang ataupun jasa setiap bulannya… untuk mendapatkan hasil yang sama!”
Bahkan jika anda ketahuan PayPal, membayar atau dibayar dari perusahaan apapun yang menggunakan sistem lebih dari 1 level (multi-level) maka “account” anda akan dibekukan.
Inilah kenyataan pahit yang harus kita terima kalau kita menjadi seorang affiliate marketer.
Seharusnya kita tetap mendapatkan hasil dari pembelian produk yang sama, barang ataupun jasa yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah kita referensikan.
Setelah bertahun-tahun menjadi seorang affiliate marketer, akhirnya saya merasa capek juga, saya harus terus-menerus menjual barang ataupun jasa setiap bulannya… untuk mendapatkan hasil yang sama!
Dan kerugian ini, sebentar lagi akan menjadi keuntungan besar buat anda.
Melakukan Pencarian…
Setelah melakukan pencarian dan penelitian cukup lama akhirnya saya menemukan jawaban bahwa sistem yang *ideal* seharusnya…
… kita tetap mendapatkan hasil dari pembelian produk yang sama, barang ataupun jasa yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah kita referensikan sampai kapan-pun juga.
Tapi sayangnya, sistem seperti ini hanya diterapkan di sistem jaringan dan multi-level / network marketing atau lebih dikenal dengan MLM (dan sejenisnya:Admin).
Perasaan Saya Tidak Jauh Berbeda Dengan Anda…
Mungkin, Bahkan Jauh Lebih BURUK!
Langsung saja…
Saya benci multi-level marketing / MLM! Saya membencinya lebih dari yang anda benci… dan saya selalu membencinya
Sampai-sampai ketika ada yang telepon menawari multi-level, langsung saya jawab: “Tidak, terima kasih”… kemudian breekkk… LANGSUNG saya tutup.
Kalau ada yang datang ke tempat saya, dan ternyata menawari multi-level… langsung saya tolak mentah-mentah… tidak perduli *siapapun* yang menawari.
Sampai sejauh itu, rasa “alergi” saya terhadap multi-level.
Mungkin sebagian dari anda juga memiliki perasaan yang sama.
Menemukan Alasannya
Awalnya saya *benar-benar* tidak tahu kenapa, aneh tapi nyata — tetapi saat itu… itulah yang sesungguhnya saya rasakan…
… akhirnya saya “iseng-iseng” mencoba untuk melakukan perbandingan:
|
Hasil |
Single-level / |
Multi-level / |
|
Saat orang yang kita referensikan membeli produk. |
Ya |
Ya |
|
Saat orang yang kita referensikan membeli produk lagi. |
X |
Ya |
|
Saat orang yang kita referensikan membeli produk yang lain. |
X |
Ya |
|
Saat orang yang kita referensikan, mereferensikan orang lain (membeli produk). |
X |
Ya |
|
Saat orang yang referensikan, mereferensikan orang lain (membeli produk lagi). |
X |
Ya |
|
Yang kita referensikan, mereferensikan orang lain (membeli produk yang lain). |
X |
Ya |
Catatan:
Tanda (X) berarti tidak ikut mendapatkan income
Tanda (Ya) berarti ikut mendapatkan income
Kalau dilihat dari perbandingan diatas, sungguh *MENGENASKAN* menjadi seorang affiliate marketer… karena hanya menerima hasil SEKALI saja dari produk yang dengan susah payah berhasil kita jual.
Walaupun sistem multi-level ini jelas-jelas lebih baik, tapi anehnya banyak orang yang “alergi” dengan sistem seperti ini.
Termasuk saya. Yang lebih anehnya lagi, saya tidak tahu kenapa — benar-benar ada sesuatu yang salah disini…
… tanpa pikir panjang, saya putuskan untuk melakukan pencarian dan penelitian sekali lagi…
… baca buku, baca artikel + literatur di internet, dan mengadakan wawancara dengan orang-orang yang pro dan kontra…
Setelah cukup lama, akhirnya saya menemukan 3 alasan:
1. Multi-level “identik” dengan bisnis cari-cari orang.
= Bukankah di setiap bisnis, kita harus cari orang juga yang berminat dengan barang dagangan kita… tidak terkecuali bisnis-bisnis di internet.
Bagaimana jika ada sistem yang mampu membangun jaringan anda secara OTOMATIS… bahkan ketika anda sedang tidur! Sehingga anda bisa mendapatkan puluhan juta rupiah setiap BULANNYA dengan cepat dan mudah!
2. Banyak yang gagal.
= Saya ingin bicara blak-blakan, memang banyak pelaku bisnis multi-level yang gagal… tapi bukankah itu sesuatu yang biasa dalam kehidupan.
Masih ingatkah ketika kita…
* … kecil: kita sudah belajar dengan keras tapi banyak nilai ujian kita yang jelek.
* … remaja: kita melakukan pendekatan ke lawan jenis tapi banyak yang ditolak.
* … dewasa: kita melamar banyak pekerjaan tetapi banyak juga yang ditolak.
Tapi apakah pada akhirnya kita tidak lulus sekolah? Tidak mendapatkan pasangan? Tidak mendapatkan pekerjaan/usaha?
Tentu TIDAK… akhirnya kita lulus sekolah, ada pasangan, dan ada pekerjaan/usaha.
Gagal hanyalah sebuah proses yang harus kita lalui sebelum kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Bagaimana jika ada sistem yang mampu membangun jaringan anda secara OTOMATIS… bahkan ketika anda sedang tidur! Sehingga anda bisa mendapatkan puluhan juta rupiah setiap BULANNYA dengan cepat dan mudah!
3. Ikut-ikutan atau “latah”.
= Saya sering mendengar, banyak orang yang anti multi-level… ternyata tidak pernah menjalankan bisnis multi-level.
Ketika digali lebih jauh, ternyata mereka hanya mendengar dari orang lain atau teman mereka. Itulah kenapa ketika ada *trend* baju, film, musik, hp, dll… banyak orang yang ikut-ikutan atau “latah”.
Ehhmmm…
Akhirnya saya sadar, alasan ke-3 inilah yang membuat saya merasa “alergi” — benar-benar *MENGERIKAN* pandangan orang lain… ketika banyak yang bilang jelek, akhirnya kita bisa terpengaruh juga… meskipun jelas-jelas semua itu salah!




